BREAKING NEWS

Kartini Masa Kini dari Ponorogo: Kiprah Endang Widayati dalam Menjaga Alam dan Memberdayakan Masyarakat

Kartini Masa Kini dari Ponorogo: Kiprah Endang Widayati dalam Menjaga Alam dan Memberdayakan Masyarakat
Ponorogo, Agrotechindonesia.com  – Di tengah meningkatnya tantangan ekologis dan sosial di wilayah pedesaan, sosok Endang Widayati hadir sebagai figur perempuan yang konsisten memperjuangkan pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat. Kiprahnya menjadikannya dikenal sebagai “Kartini masa kini” dari Ponorogo.

Perempuan yang memulai karier sebagai jurnalis pada 1998 di Radio Duta Nusantara Ponorogo ini telah menjelma menjadi penggerak perubahan sosial-ekologis berbasis komunitas. Pengalamannya di dunia jurnalistik membawanya dekat dengan berbagai persoalan masyarakat, mulai dari konflik agraria hingga krisis air yang kerap melanda wilayah pelosok.

“Dari lapangan, saya belajar bahwa persoalan lingkungan selalu berkaitan dengan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya dalam berbagai kesempatan.

Latar belakang pendidikan Ilmu Komunikasi yang ditempuhnya di Universitas Muhammadiyah Ponorogo memperkuat kapasitasnya dalam mengedukasi publik. Ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Kartini Masa Kini dari Ponorogo: Kiprah Endang Widayati dalam Menjaga Alam dan Memberdayakan Masyarakat
Melihat kondisi Ponorogo yang menghadapi degradasi lahan dan kekeringan musiman, Endang kemudian mendirikan Komunitas Hijau Lestari. Melalui komunitas ini, ia menginisiasi gerakan penghijauan berbasis kemandirian dengan membangun pembibitan pohon secara mandiri.

Ribuan hingga jutaan bibit pohon telah didistribusikan ke sejumlah wilayah kritis seperti Wonopuro dan Desa Sidoharjo. Program ini tidak hanya memulihkan lingkungan, tetapi juga mengembalikan sumber air yang sempat mengering.

Selain penghijauan, ia juga mendorong penerapan teknologi sederhana seperti sumur resapan dan biopori guna meningkatkan cadangan air tanah.

Tak berhenti pada sektor lingkungan, Endang juga menggagas gerakan “Ayo Repot”, sebuah kampanye yang mengajak petani beralih ke sistem pertanian organik.

Melalui gerakan ini, petani didorong untuk memproduksi sendiri kebutuhan pertanian, seperti pupuk organik, mikroorganisme lokal (MOL), hingga pestisida alami. Meski membutuhkan usaha lebih, pendekatan ini terbukti mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan kualitas tanah.

“Kalau petani mandiri, mereka tidak lagi tergantung pada pupuk kimia dan harga pasar,” kata Endang.

Sebagai bagian dari inovasinya, Endang juga memperkenalkan konsep refugia, yaitu penanaman bunga di sekitar lahan pertanian untuk menarik predator alami hama.

Kartini Masa Kini dari Ponorogo: Kiprah Endang Widayati dalam Menjaga Alam dan Memberdayakan Masyarakat
Metode ini dinilai efektif dalam mengurangi penggunaan pestisida kimia sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Selain ramah lingkungan, pendekatan ini juga memperkuat ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim.

Endang menaruh perhatian besar pada pemberdayaan perempuan desa. Ia mendirikan Farm Hope Women Group dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Harapan sebagai wadah penguatan kapasitas perempuan.

Melalui kelompok ini, perempuan dilatih keterampilan bertani organik, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan usaha berbasis hasil pertanian.

Upaya ini tidak hanya meningkatkan ekonomi keluarga, tetapi juga mendorong lahirnya perempuan-perempuan pemimpin di tingkat desa.

Dalam perjalanannya, Endang juga aktif melakukan advokasi sosial, terutama bagi masyarakat di wilayah terpencil. Ia mendorong perbaikan infrastruktur, akses layanan kesehatan, serta bantuan bagi kelompok rentan.

Baginya, pelestarian lingkungan tidak bisa dilepaskan dari upaya mengentaskan kemiskinan.

Terbaru, ia juga memperoleh penghargaan Pelestari Fungsi Lingkungan Hidup tingkat Jawa Timur pada 2025.

Pengakuan ini menegaskan bahwa gerakan berbasis komunitas yang ia bangun di Ponorogo memiliki dampak luas, bahkan hingga tingkat global.

Kini, gerakan yang dirintis Endang tidak lagi bergantung pada individu, melainkan telah berkembang menjadi gerakan kolektif berbasis masyarakat.

Ia terus mendorong regenerasi kader dan memperluas gerakan penghijauan lintas wilayah, sekaligus mengajak masyarakat menjadikan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Menanam adalah dzikir,” menjadi filosofi yang terus ia gaungkan.

Dari Ponorogo, Endang Widayati membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil di tingkat desa—dengan konsistensi, kepedulian, dan keberanian. (Tar)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar