BREAKING NEWS

Kemenperin Targetkan 100 Peserta Program Cocoa Doctor, Perkuat Industri Kakao Nasional

Kemenperin Targetkan 100 Peserta Program Cocoa Doctor, Perkuat Industri Kakao Nasional
Jakarta, agrotechindonesia.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan sebanyak 100 peserta mengikuti program Cocoa Doctor sepanjang 2026. Program ini menjadi salah satu upaya memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM), meningkatkan produktivitas dan kualitas bahan baku, serta mendorong keberlanjutan industri kakao nasional.

Hingga awal Oktober 2026, sebanyak 70 peserta telah mengikuti pelatihan. Sementara itu, 30 peserta lainnya dijadwalkan menjalani pelatihan pada 20 Oktober hingga 11 November 2026.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan, penguatan industri kakao membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi berbagai tantangan, mulai dari produktivitas perkebunan, kualitas bahan baku, hingga keberlanjutan pasokan bagi industri pengolahan.

“Penguatan industri kakao tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari peningkatan produktivitas dan kualitas bahan baku, penguatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan prinsip keberlanjutan, hingga peningkatan daya saing industri pengolahan dan produk kakao nasional,” kata Sarmuji dalam keterangannya, Senin (19/10).

Upaya tersebut diperkuat melalui Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Kemenperin bersama FAST Project dari United Nations Development Programme (UNDP), dengan dukungan United Kingdom Foreign, Commonwealth & Development Office (UK FCDO) serta Cocoa Academy PT Mars Symbioscience Indonesia.

Melalui kolaborasi ini, pemerintah berupaya membangun ekosistem kakao yang lebih terintegrasi, mulai dari budidaya di tingkat hulu hingga pengolahan dan pengembangan produk bernilai tambah di sektor hilir.

Sarmuji berharap, sinergi yang terbangun tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi berlanjut menjadi program dan aksi nyata yang memberikan manfaat bagi petani, pelaku usaha, serta industri kakao nasional.

“Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program dan aksi bersama yang memberikan dampak nyata bagi petani, pelaku usaha, dan industri kakao nasional,” ujarnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menilai, pengembangan kompetensi SDM merupakan fondasi penting untuk membangun industri kakao yang tangguh dan berdaya saing.

Menurut dia, tenaga kerja yang memiliki keterampilan di bidang budidaya, penanganan pascapanen, fermentasi, pengolahan, hingga aspek keberlanjutan akan membantu menjembatani kebutuhan industri dengan kondisi produksi di tingkat hulu.

Putu menjelaskan, lulusan program Cocoa Doctor diharapkan tidak hanya menerapkan pengetahuan yang diperoleh, tetapi juga membagikannya kepada petani dan pelaku usaha di daerah masing-masing.

Dengan pola tersebut, dampak pelatihan diharapkan meluas melampaui peserta secara langsung. Transfer pengetahuan kepada pelaku di lapangan dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus menjaga konsistensi kualitas biji kakao sebagai bahan baku industri.

Selain kompetensi SDM, pengembangan industri kakao nasional juga memerlukan perhatian terhadap aspek keberlanjutan. Hal ini mencakup ketertelusuran bahan baku, pemenuhan standar dan persyaratan pasar, serta peningkatan kesejahteraan pelaku usaha di sepanjang rantai nilai.

Karena itu, Kemenperin terus mendorong sinergi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, mitra pembangunan, serta masyarakat untuk membangun ekosistem kakao yang lebih terintegrasi.

“Kemenperin optimistis pengembangan industri kakao Indonesia dapat semakin dipercepat, sekaligus memperkuat ketersediaan bahan baku berkualitas bagi industri pengolahan dalam negeri dan meningkatkan daya saing produk kakao Indonesia di pasar global,” pungkas Putu.

Melalui program Cocoa Doctor, penguatan kapasitas SDM diharapkan menjadi salah satu pengungkit bagi peningkatan kualitas kakao nasional. Keterhubungan yang semakin kuat antara petani, pelaku usaha, dan industri pengolahan menjadi faktor penting untuk menciptakan rantai pasok yang produktif, berkelanjutan, dan mampu bersaing di pasar global. (red) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar