Inspiratif! Guru SMK Negeri 2 Ponorogo Sulap Dak Lantai 3 Menjadi Kebun Ketahanan Pangan, Tanamkan Karakter Siswa Lewat Aksi Nyata
![]() |
| Inspiratif! Guru SMK Negeri 2 Ponorogo Sulap Dak Lantai 3 Menjadi Kebun Ketahanan Pangan, Tanamkan Karakter Siswa Lewat Aksi Nyata |
Program tersebut mendorong sekolah
tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang
pembelajaran kehidupan yang mampu melahirkan generasi cerdas, produktif,
mandiri, sekaligus memiliki kepedulian terhadap ketahanan pangan dan
kelestarian lingkungan.
Semangat itu menginspirasi Tarmin,
guru SMK Negeri 2 Ponorogo, untuk menghadirkan sebuah laboratorium pembelajaran
sederhana namun penuh makna. Ia memanfaatkan lahan kosong di dak lantai tiga
rumah kost yang dikelolanya menjadi kebun produktif sebagai media praktik
menanam bagi para siswa.
Lokasi kebun yang berada Jalan
Poncowolo, Pakunden, Ponorogo, hanya berjarak dekat dari SMK Negeri 2 Ponorogo
sehingga mudah dimanfaatkan sebagai tempat belajar di luar kelas.
![]() |
| Inspiratif! Guru SMK Negeri 2 Ponorogo Sulap Dak Lantai 3 Menjadi Kebun Ketahanan Pangan, Tanamkan Karakter Siswa Lewat Aksi Nyata |
Tidak hanya mengajarkan teknik
budidaya tanaman, kebun ini juga mengenalkan konsep ekonomi sirkular. Pupuk
organik yang digunakan berasal dari dedaunan kering, sisa tanaman, dan sampah
organik yang diolah kembali menjadi kompos, sehingga seluruh proses budidaya
berlangsung lebih ramah lingkungan dan minim limbah.
Lebih dari sekadar media
pembelajaran, kebun ini juga memberikan manfaat nyata bagi kehidupan
sehari-hari. Hasil panen dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sayuran para
penghuni Kost Griya Amanah yang sebagian besar merupakan peserta didik Tarmin
di SMK Negeri 2 Ponorogo. Selain itu, ketika hasil panen melimpah, sayuran
segar juga dibagikan kepada warga di sekitar sebagai bentuk kepedulian sosial
dan semangat berbagi kepada masyarakat.
Menurut Tarmin, gerakan sederhana
tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap Program SIKAP sekaligus upaya
membangun budaya peduli lingkungan sejak dini.
"Program ini bukan sekadar
mengajarkan cara menanam sayuran, tetapi juga menanamkan karakter. Anak-anak
belajar disiplin merawat tanaman setiap hari, bertanggung jawab terhadap
tugasnya, bekerja sama, mencintai lingkungan, serta memahami pentingnya
ketahanan pangan. Ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap Program SIKAP Dinas
Pendidikan Provinsi Jawa Timur sekaligus langkah kecil dalam mitigasi perubahan
iklim melalui pemanfaatan lahan sempit, pengelolaan sampah organik, dan
penggunaan limbah galon bekas sebagai media tanam yang bernilai guna. Harapan
kami, kebiasaan baik ini dapat dibawa pulang oleh siswa dan diterapkan di
lingkungan keluarga maupun masyarakat," ujar Tarmin.
Ia menambahkan bahwa pembelajaran
berbasis praktik mampu memberikan pengalaman yang jauh lebih membekas
dibandingkan hanya membaca materi di dalam kelas.
Melalui kegiatan tersebut, siswa
tidak hanya belajar bagaimana tanaman tumbuh, tetapi juga memahami bahwa
keberhasilan panen membutuhkan kesabaran, konsistensi, kerja keras, serta
kepedulian terhadap alam. Mereka juga belajar bahwa hasil dari kerja keras
dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.
Salah satu siswa yang mengikuti
kegiatan tersebut, Maya, mengaku mendapatkan pengalaman yang sangat berharga.
"Saya sangat senang bisa ikut
belajar menanam. Selama ini saya hanya melihat orang bercocok tanam, tetapi
sekarang bisa mencoba sendiri. Pengalaman ini sangat berarti bagi saya. Saya
jadi tahu cara memanfaatkan barang bekas menjadi media tanam, merawat tanaman
sampai panen, dan insyaallah nanti akan saya terapkan di rumah bersama
keluarga," ungkapnya.
Kegiatan sederhana itu perlahan
menghadirkan suasana belajar yang berbeda. Kebun di atas dak bukan sekadar
menghasilkan sayuran segar, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya karakter,
kreativitas, kepedulian sosial, dan semangat berbagi. Sayuran yang dipanen
menjadi bukti bahwa proses belajar dapat memberikan manfaat langsung, baik bagi
para penghuni asrama maupun masyarakat sekitar. (red)
Di tengah semakin terbatasnya lahan
perkotaan dan meningkatnya tantangan perubahan iklim, inovasi seperti ini
membuktikan bahwa pendidikan dapat dimulai dari ruang sekecil apa pun. Sebidang
dak bangunan yang sebelumnya kosong kini berubah menjadi laboratorium kehidupan
yang mengajarkan nilai-nilai penting tentang keberlanjutan, ketahanan pangan,
tanggung jawab terhadap lingkungan, serta pentingnya berbagi hasil kepada
sesama.
Kisah Tarmin menunjukkan bahwa
perubahan besar sering kali berawal dari langkah sederhana. Ketika seorang guru
mampu mengubah ruang kosong menjadi ruang belajar yang hidup, maka yang tumbuh
bukan hanya sayuran, tetapi juga karakter, optimisme, kemandirian, dan
kepedulian sosial.
Apa yang dilakukan di Dak lantai tiga
Kost Griya Amanah menjadi bukti bahwa ketahanan pangan tidak selalu dimulai
dari lahan yang luas, melainkan dari kemauan untuk memanfaatkan setiap ruang
yang tersedia. Melalui tangan seorang pendidik dan semangat para siswa, kebun
kecil di atas dak telah menghadirkan manfaat nyata: menyediakan pangan sehat
bagi penghuni kost, berbagi hasil panen kepada warga sekitar, sekaligus
melahirkan generasi yang memahami bahwa ilmu pengetahuan akan semakin bermakna
ketika diwujudkan dalam aksi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.

